Majlis Thoreqoh

Pengenalan Thoreqoh ~>

Thoreqoh secara singkat,
Thoreqoh dari segi bahasa dapat diartikan dg jalan, sedangkan secara istilah thoreqoh adalah perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin pada Allah. Dalam perkembangannya, thoreqoh tumbuh dengan berkembangnya aliran-aliran dalam thoreqoh. Dari sekian banyak aliran dalam thoreqoh, setidaknya ada 44 aliran yang dinilai mu’tabaroh (muttashil sanadnya), diantaranya adalah
• Abbasiyah
• Ahmadiyah
• Akhbariyah
• Alawiyah
• Bairumiyah
• Bakdasyiyyah
• Bakriyah
• Bayumiyah
• Buhuriyah
• Dasuqiyah
• Ghaibiyah
• Ghazaliyah
• Haddadiyah
• Hamazawiyah
• Idrisiyah
• Idrusiyah
• Isawiyah
• Jalwatiyah
• Justiyah
• Kalsyaniyah
• Qodiriyah
• Khalwatiyah
• Khalidiyah wa Naqsabandiyah
• Kubrawiyah
• Madbuliyah
• Malawiyah
• Maulawiyah
• Qodiriyah wa Naqsabandiyah
• Rif’iyah
• Rumiyah
• Sa’diyah
• Samaniyah
• Sumbuliyah
• Sya’baniyah
• Syadziliyah
• Syattahriyah
• Suhrawardiyah
• Tijaniyah
• Umariyah
• Usyaqiyah
• Utsmaniyah
• Uwaisiyah
• Zainiyah
• Thoreqoh ahli baca Al Qur’an, Sunnah, Dalailul Khoirot, Pengajian Fathul Qorib dan Kifayatul Awam

#Ensiklopedi Aliran Tarekat dlm Tasawuf, hlm. 47

Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Kalimantan Barat) yang merupakan thoreqoh gabungan dari Thoreqoh Qodiriyah dan Thoreqoh Naqsabandiyah. Salah satu penyebarnya di Purwodadi adalah Kyai Hasan Anwar Gubuk (Murid dari Kyai Ibrahim Brumbung) yang dilanjutkan oleh Kyai Madchan (Pendiri PP. Darut Taqwa) lalu ke putra beliau Kyai A. Qomaruddin.

# KH. A.Aziz Masyhuri, Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dlm Tasawuf, hlm 199

Sejarah Terbentuknya Organisasi Jam’iyyah Ahli Thareqah al-Mu’tabarah ~>

Pemikiran perlunya sebuah organisasi yang menyatukan penganut thareqah, berangkat dari keprihatinan atas banyaknya terjadi pertentangan-pertentangan dikalangan penganutnya sendiri. Sebagian disebabkan karena minimnya ilmu syariat sehingga pemahaman tentang thareqah melampaui batas, diantaranya tidak adanya pembatas antara aki-laki dengan perempuan saat prosesi tawajjuhan, juga banyaknya pengakuan menjadi khalifah padahal yang bersangkutan belum mendapat ijin dari syehnya. Bahkan terkadang pengakuan ini berasal dari orang yang sama sekali belum memahami thareqah.[1] Di sisi lain, para ulama thareqah menyaksikan menjamurnya thareqah yang menyimpang tetapi justru terorganisir dengan baik.

Oleh karena itu, para ulama thareqah di Jawa Tengah diantaranya KH. Nawawi Berjan dan KH. Masruhan Brumbung dalam pertemuannya pada 31 Desember 1955 merasa perlu untuk meluruskan dan menyepakati pembentukan jam’iyyah thareqah yang shahih. Sekitar dua tahun Kyai Nawawi melakukan silaturrahim ke beberapa daerah di Jawa Tengah, JawaTimur dan Jawa Barat bersama Kyai Mahfudz. Sementara perjalanannya ke Kyai Rahmat di Pondok Gadingan Mojokerto pada tahun 1957, Kyai Nawawi didampingi oleh Kyai Abdurrohim Pagedangan.

Sedangkan di Jawa Timur, keprihatinan sama juga dirasakan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah. Untuk mencari informasi nama-nama thareqah di Indonesia yang muttasil (bersambung) kepada Rasulullah SAW dan yang tidak muttasil, Pengasuh PP. Tambak Beras ini kemudian pergi ke Saudi Arabia guna menemui beberapa syeh yang ada disana. Mbah Wahab menyebut thareqah yang muttasil dengan muktabar.[2]

Pada tanggal 12 Desember 1956 sejumlah Kyai NU seperti KHR. Asnawi Kudus, KH.Ma’shum Lasem (ayahanda KH. Ali Ma’sum), KH. Mandhur Temanggung, KH. Juned Yogyakarta,[3] KH. Abdurrahman Kendal dan lain-lain berkumpul dalam acara Haul KH. Ibrahim, kakek KH. Ihsan Mastur bin Abdurrohman al-Manur Brumbung. Dalam pertemuan ini, kesepakatan untuk menghimpun penganut thareqah mu’tabaroh semakin diperluas.

Pada tanggal 15 Sya’ban/17 Maret 1957 dalam Majlis haul KH. Zarkasyi Berjan Purworejo terbentuk sekretariat sementara untuk pembentukan Panitia Kongres.[4] Kali ini Susunan kepanitiaan belum terbentuk, tetapi rencana penyelenggaraan kongres sudah terdengar oleh KH. Romli Tamim Peterongan.

Panitia Kongres Thareqat Mu’tabaroh I berhasil dibentuk dalam pertemuann konsultasi yang dilaksanakan di rumah Bapak Romlan Semarang pada tanggal 11 Agustus 1956, dengan susunan sebagai berikut:

Pelindung        :

  1. KH. Romli Tamim ~ Rejoso Jombang
  2. Andi Potopoi ~ Bupati Grobogan[5]
  • Ketua I            : KH. Nawawi ~ Purworejo
  • Ketua II          : KH. Mandhur ~ Temanggung
  • Sekretaris I      : Mahfudz ~ Purworejo
  • Sekretaris II     : Ma’shum ~ Semarang
  • Bendahara I     : Romelan ~ Semarang
  • Dibantu oleh Para Kyai :
  1. Kyai Khudlori ~ Magelang
  2. Kyai Juned ~ Jogjakarta
  3. Kyai Nawawi ~ Parakan
  4. Kyai Abdurrohman ~ Kendal
  5. Kyai Muslih ~ Mranggen
  6. Kyai Masruhan ~ Brumbung
  7. Kyai Madhan Rois ~ Grobogan (Pendiri PP. Darut Taqwa)
  8. Pak Abdul Wahab ~ Magelang
  9. Mas Sowwam ~ Solo
  10. Kyai Ibrahim ~ Semarang
  11. Kyai Usman ~ Mranggen
  12. Kyai Raden Sulaiman Zuhdi ~ Purworejo
  13. Pak Abadullah[6]

Kongres Jam’iyyahAhli Thoreqoh Mu’tabaroh I terselenggara pada tanggal 12-13 Oktober 1957 di Tegalrejo Magelang, menghasilkan presidium kepengurusan anggota; KH. Mandlur, KH. Chudlori Tegalrejo, KH. Usman, KH. Chafidz Rembang, KH. Nawawi, KH. Masruhan Brumbung, dengan sidang pertamanya di Rejoso Jombang. Kongres ini juga menyepakati tanggal 19/20 Robiul Awal 1377 H/ 10 Oktober 1957 sebagai hari lahir Jam’iyyah Ahlit Thoreqoh Al-Mu’tabaroh.[7]Pendirian jam’iyyah ini juga direstui oleh KH. Dalhar Watucongol, walaupun saat acara tersebut beliau tidak berkenan naik ke panggung.

Permasalahan hukum masuk thariqah disebutkan dalam soal No.1 Keputusan Muktamar I Jam’iyyah Ahlit Thoreqohal-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah di Tegalrejo Magelang. Ketika diajukan pertanyaan; “bagaimana pendapat muktamirin tentang hukum masuk thareqah dan mengamalkannya?” para muktamirin berpendapat bahwa apabila yang dimaksudkan dengan ‘masuk thareqah’ adalah belajar membersihkan hati dari sifat-sifatyang rendah dan menghiasi diri dari sifat-sifat terpuji, maka hukumnya fardlu‘ain. Keputusan ini diambil dengan menggunakan argumentasi hadis yangberarti; “menuntut ilmu diwajibkan bagi orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan”. Namun, apabila yang dimaksudkan dengan ‘masuk thareqah’ adalah untuk dzikir dan wirid, maka termasuk dalam sunnah Rasullullah Saw. Mengenai hukum mengamalkan thareqah dengan dzikir dan wirid adalah wajib untuk memenuhi janji yang telah diucapkannya. Sedangkan hukum mengajarkan dzikir dan wirid adalah sunah karena sanadnya muttasil sampai kepada Nabi Saw. Jawaban ini diperoleh dari Kitab al-Ma’arif al-Muhammadiyyah dan al-Adzkiya yang digunakan sebagai referensi (al-maraji’).[8]

Dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-26 di Semarang pada tahun 1979 M/1339 H,Jam’iyyah Ahlit Thoreqoh al-Mu’tabaroh kemudian dimasukkan sebagai salah satu organisasi otonom di bawah Nahdlatul Ulama dan dikukuhkan dengan Surat Keputusan Syuriah PBNU Nomor 137/Syur.PB/V/1980. Sejak saat itu hingga sekarang, Jam’iyyah ini kemudian dikenal dengan namaJam’iyyah Ahli Thoreqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah.[9]

[1]Risalah MukatamarAwwal, hlm. 2

[2] “Melacak Jejak Thareqat NU”, Aula;Majalah Nahdlatul Ulama, Edisi 10 Tahun XII, Oktober 1991, hlm. 22-27

[3] Barangkaliyang dimaksud adalah Kyai Juned Kanggotan Yogyakarta

[4] Loc cit,

[5] AndiPatopoi yang menjadi Bupati Grobogan Purwodadi adalah kakek dari Dr. Andi Malarangeng, Mantan Kemenpora RI.

[6] Lihatdalam Risalah Muktamar Awwal

[7] Loc cit

[8] KH.Aziz Masyhuri, Permasalahan Thareqat; Hasil Kesepakatan Muktamar danMusyawarah Besar Jam’iyyah Ahli Thareqat al-Muktabaroh an-Nahdliyyah1957-2005, cet. I, (Serabaya: Khalista, 2006), hlm. 2-3

[9] Pasal 2Perubahan AD Jam’iyyah Ahli Thoreqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, Hasil-hasilMuktamar ke-9 Jam’iyyah Ahli Thoreqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, tgl. 21-23Dz. Qa’dah 1421 H/26-28 Februari 2000 M, di Pekalongan ()

#Mengenal K.H. Nawawi Berjan Purworejo; Tokoh di Balik Berdirinya Jam’iyyah Ahli Thareqah al-Mu’tabarah, Surabaya; Khalista, 2008, hlm. 96-107

Majlis Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Darut Taqwa ~>

Sebagaimana yang disebutkan dalam karya KH. A. Aziz Masyhuri dalam buku ‘Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf’ hlm.199, bahwa “salah satu penyebarThoreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah di Purwodadi adalah Kyai Hasan Anwar Gubuk (Murid dari Kyai Ibrahim Brumbung) yang dilanjutkan oleh Kyai Madchan (Pendiri PP. Darut Taqwa) lalu ke putra beliau Kyai A. Qomaruddin“. Jadi jika diruntut sanad Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah Kyai Madchan adalah dari Kyai Hasan Anwar Gubuk dari Kyai Ibrahim Brumbung dari KH. Abdul Karim Banten. Selanjutnya setelah wafatnya Kyai Madchan dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Ahmad Qomaruddin M, yang kemudian dilanjutkan Kyai Ahmad Mujahiddin M, putra ke-4 beliau (adik dari KH. Ahmad Qomaruddin M).

Majlis Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah oleh Kyai Madchan selain disebarkan di seluruh daerah Grobogan, juga disebarkan hingga ke wilayah Yogyakarta. Di Grobogan sendiri majlis ini diadakan pada setiap hari Selasa di kediaman (Jagalan Utara) dan setiap Ahad Pahing di Gedung Wisuda Purwodadi.  Khusus hari Selasa Wage semua jama’ah berkumpul dan tawajuhan di kediaman (Jagalan Utara).

Setelah Selasa Wage hingga hingga Sabtu Kliwon,  Kyai Madchan berada di Yogyakarta dan mengadakan majlis thoreqoh disana. Biasanya selepas pengajian Selasa Wage, Kyai Madchan berangkat tindak ke Yogyakarta dengan naik kereta yang didampingi oleh Mbah Nyai Masfi’ah dan putra-putrinya. Selama di Yogyakarta beliau mengadakan majlis thoreqoh bergantian dari satu tempat ke tempat lainnya, dari tempat kediaman Mbah H. Zaini Draman, P. Amsari Krasa’an dll.  Dan sebagai penutup, setiap hari Sabtu Kliwon beliau mengadakan majlis thoreqoh di kediaman Bpk. Lurah Piyungan. Dari kegiatan tersebut banyak jama’ah yang ada dari Yogyakarta, baik dari daerah Piyungan hingga Sleman.

Disebabkan karena semakin banyaknya jama’ah thoreqoh dan pengaruh kuat Kyai Madchan pada masyarakat, maka beliau dianggap orang yang berbahaya bagi pemerintahan Belanda. Pada saat Belanda mengadakan penyisiran hingga daerah-daerah untuk menangkap dan membunuh para kyai, Kyai Madchan tidak luput dari sasaran. Sekitar th.1948, Belanda mendatangi kediaman Kyai Madchan di Jagalan Utara Purwodadi. Pada saat itu, Simbah Nyai Masfi’ah yang menerima kedatangan para tentara dengan menggendong KH. Ahmad Qomaruddin yang masih berusia 2tahun. Para tentara Belanda sempat mengobrak-abrik rumah dan kitab milik Kyai Madchan, namun usaha mereka gagal untuk menangkap Kyai Madchan karena Kyai Madchan berhasil melewati tentara Belanda dengan melewati tentara Belanda lewat pintu barat dan pergi ke daerah Nadri Grobogan. Tepatnya di Rumah Mbah Hasan Mustawi Desa Tegal Sumur Nadri Grobogan, Kyai Madchan tinggal beberapa bulan untuk menunggu tentara Belanda pergi dari daerah Grobogan. Disana beliau mengajarkan ilmu agama, majlis thoreqoh dan ilmu bela diri pencak silat kepada masyarakat. Oleh karena itu, jama’ah thoreqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyyah berkembang semakin luas di Grobogan .

Selain menyebarkan majlis thoreqoh, Kyai Madchan juga dikenal karena kedalaman ilmu pencak silatnya, ketegasan dalam mengajar dan kebersihan menjaga harta dan hati. Oleh sebab itu, Kyai Madchan dikenal dengan sebutan Wali Paku Bumi.

Pada sekitar th.1956an Kyai Madchan pergi mengantar putra pertama beliau, KH. Ahmad Qomaruddin M. ke pondok Lirboyo Kediri. Disana beliau bertemu dengan Mbah Arsyad (Piyungan Yogyakarta) dan memberi beberapa nasihat pada Mbah Arsyad. Sejak saat itu, Mbah Arsyad menjadi murid beliau dan mengikuti kemanapun beliau pergi bersama keluarga.

Banyak para ulama yang dekat dan berteman baik dengan beliau. Simbah Kyai Jogorekso, Simbah Kyai Abdul Qodir Krapyak Yogyakarta, Simbah Kyai Dalhar Watucongol Magelang, Abah Ghozali, Gus Thoha Surabaya dan Gus Thoyib Surabaya adalah beberapa ulama yang dekat dengan beliau. Selain itu ada Simbah Kyai Juned Kanggotan Yogyakarta, Simbah Kyai Abdul Hamid Kajoran, Simbah Kyai Abdul Hamid Krasak’an, dan Simbah Kyai Marzuki Mranggen adalah ulama-ulama yang dekat dengan beliau. Dan dari keterangan dari KH. Chalwani Berjan Purworejo, Kyai Madchan dan putra beliau KH. Ahmad Qomaruddin M. juga dekat dengan KH. Nawawi Berjan Purworejo. Dari petuturan KH. Chalwani (16/05/2015), sering kali Kyai Madchan beserta KH. Ahmad Qomaruddin M. bersilaturrahim ke Berjan Purworejo. Dengan para ulama tersebut dan ulama lainnya yang tidak dapat disebut satu-persatu, bersama-sama berjuang menjaga akidah dan kesatuan umat muslim saat itu dengan salah satunya membuat organisasi  Jam’iyyah Ahlit Thoreqohal-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah.

Dan karena kedekatan Kyai Madchan dengan Simbah Kyai Dalhar, beliau lah yang mengadakan Pengajian Haul Pertama Simbah Kyai Dalhar dan putra beliau Kyai Ahmad Mujahiddin M. (pengasuh PP. Darut Taqwa Purwodadi saat ini) ditampuk menjadi Qori’ yang diadakan beliau di Watucongol Muntilan Magelang.

Kyai Madchan wafat pada tanggal 26 Muharram 1397 H atau tahun 1977 M dan perjuangan beliau dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Ahmad Qomaruddin Madchan. Pada masa KH. Ahmad Qomaruddin M, majlis ini tetap dilaksanakan  tetapi berbeda tempat. Untuk hari Selasa masih tetap di kediaman (Jagalan Utara); hari Ahad Pahing di Masjid Baitul Hikmah Desa Pengkol Penawangan; hari Sabtu Kliwon di kediaman Bpk. H. Hayat Yogyakarta (Bapak dari Bpk. A.A. Ghufron, M.Pd.I).

KH. Ahmad Qomaruddin M. wafat pada tanggal 10 Januari 2001 yang kemudian majlis thoreqoh yang ada di PP. Darut Taqwa Purwodadi dilanjutkan oleh Kyai Ahmad Mujahiddin M. hingga sekarang.

Kyai Jogorekso bersama Kyai Madchan
Kyai Madchan dengan Mbah R.M. Jogo Rekso Muntilan

 

Kyai Madchan dengan Gus Thoha (Surabaya)

Kyai Madchan dengan Gus Thoha (Surabaya) dan Gus Toyib

 

Kyai Madchan bersama Gus Thoha (Surabaya)
Kyai Madchan bersama Gus Thoha (Surabaya)

 

Kyai Madchan pada saat di Yogyakarta
Kyai Madchan pada saat di Yogyakarta

 

Untitled-24

 

Untitled-22
Kyai Madchan saat mengisi di Pengajian Ahad Pahing di Purwodadi
scan0017
Pengajian Thoreqoh Ahad Pahing di Gedung Wisuda Purwodadi

IMG_1806

IMG_1817
KH. Ahmad Qomaruddin M. saat di maqbaroh Simbah Kyai Madchan

IMG_1818

KH. Ahmad Qomaruddin M. bersama KH. Ibrahim di depan Komplek L Al Munawir Krapyak Yogyakarta
KH. Ahmad Qomaruddin M. bersama KH. Ibrahim di depan Komplek L Al Munawir Krapyak Yogyakarta

 

IMG_0153IMG_8010

IMG_8009

CIMG0534

 

IMG_1923
Kyai Ahmad Mujahiddin M. (Putra ke-4 Simbah Kyai Madchan) – KH. Najib Abdul Qodir Munawwir (Putra Simbah Kyai Abdul Qodir Krapyak Yogyakarta) saat memimpin pembacaan tahlil di maqbaroh (2014 M)

 

IMG_1920
Kyai Ahmad Mujahiddin M. (Putra ke-4 Simbah Kyai Madchan) – KH. Najib Abdul Qodir Munawwir (Putra Simbah Kyai Abdul Qodir Krapyak Yogyakarta) saat memimpin pembacaan tahlil di maqbaroh (2014 M)
IMG_1921
KH. Musta’in Dlofir Gubug Grobogan dalam pengajian Haul di maqbaroh Sanggrahan

IMG_0129

 

 

IMG_0104

 

IMG_0087

IMG_20160116_091424

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

berlokasi di Jl. Kolonel Sugiono III/06 Jagalan Utara Purwodadi Grobogan Jawa Tengah

%d blogger menyukai ini: