DARUT TAQWA BERRAMADHAN (LapUt Buletin)

DARUT TAQWA BERRAMADHAN

Oleh: Putri Intan Sari dan Rahmatul Khairiyyah

 

Bulan Ramadhan selalu identik dengan berbagai amalan ibadah, tidak heran bulan ini dijuluki sebagai bulan ibadah. Di masyarakat, hal umum yang dilakukan untuk menyambut bulan suci ini adalah dengan melakukan puasa, melakanakan shalat tarawih dan berbagai amalan lain seperti bertambahnya porsi waktu untuk digunakan mengaji dan tadarrus. Tidak jauh berbeda dengan penyikapan masyarakat terhadap bulan Ramadhan, pengadaan berbagai hal positif ini juga diberlakukan dalam instansi pendidikan (Islam khususnya). Berbagai sekolahan dan pondok pesantren secara massal menyelenggarakan kegiatan-kegiatan religius dengan sistem baru. Madrasah dan pesantren Darut Taqwa merupakan satu diantaranya.

Madrasah (Mts dan MA) dan pondok pesantren yang didikiran oleh KH. Madchan ibn Abd al-Manan ini menggunakan sistem yang sama sekali berbeda dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Jika sebelumnya materi kurikulum selalu diajarkan secara kontinyu berdasar jadwal dengan materi pelajaran yang berdasar pengetahuan umum, maka khusus pada bulan Ramadhan ini materi diperuntukkan kepada pengetahuan keagamaan dengan menggunakan referensi kitab para ulama` klasik. Model pembelajaran seperti ini juga relatif berbeda  dengan sekolah lain yang masih banyak melibatkan materi kurikulum yang berdasar pengetahuan umum. Di samping itu, dewan pengajar juga tidak semua dari dewan sekolah, melainkan menggunakan sistem perpaduan antara pengajar pondok dan madrasah. Kegiatan ini dilangsungkan dengan misi menimba ilmu serta selalu mengedepankan akhlaqul karimah.

Karena 1 Ramadahan 1433 bertepatan dengan tanggal 21 Juli 2012, maka sejak saat itu juga pelaksanaan kegiatan Madrasah dan Pesantren Ramadhan Darut Taqwa dimulai. Kitab-kitab yang terlibat diantaranya adalah akhlaq lilbanin, fiqh wadih, sulam taufiq, dan lain sebagainya. Adapun pemilihan kitab disesuaikan kemampuan siswa secara umum yang terdapat dalam satu kelas. Model pembelajarannya dilakukan dengan sistem yang berbeda. Terkadang diskusi, bandongan, menghafal dan menulis ulang. Model ini bertujuan untuk melatih menulis, mengolah daya fikir dan memecahkan suatu masalah.

Metode semacam ini terbukti efektif dengan melihat kemampuan siswa tingkat awal yang semua susah untuk menulis arab (apalagi memaknai), menjadi lebih mendingan. Sedangkan dijenjang menengah, para siswa yang semula sudah dapat menulis namun belum bisa membaca makna kitab, sedikit banyak telah terlihat perkembangan. Adapun di level atas, diskusi sudah mulai berjalan dengan `lumayan` baik.

Untuk masalah teknis pelaksanaan, kekurangan sangat tampak pada kegiatan shalat dhuha. Beberapa problem yang harus dihadapi diantaranya kurangnya disiplin siswa dalam melaksanakan shalat dhuha yang diadakan setiap pagi. Jam datang yang telat, peralatan yang terkadang tidak dibawa, dan  juga sarana air wudlu yang kadang kurang menjadi kendala bagi keberlangsungan kegiatan shalat dhuha ini. Disisi lain, banyak sekali siswa yang mengabaikan kegiatan ramadhan ini. Kurangnya minat siswa dalam mengisi kegiatan ramadhan kali ini dianggap sebagai faktor ketidakaktifan mereka dibursa transfer ilmu.

Kedepan, semoga nanti kita dapat mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi pada perjalanan Ramadhan kali ini. Kita semua tentu berharap apa yang menjadi  maksud baik kita selama ramadahan dapat menuai hasil yang maksimal. Oleh karenanya, untuk hasil maksimal harus diusahakan secara maksimal pula.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s